Aroma nasi goreng yang baru matang memenuhi ruang makan rumah keluarga itu. Ibu Luna, Bu Ratna, dengan cekatan menuangkan teh hangat ke dalam gelas, sementara Arman, ayah Luna, duduk membaca koran pagi. Di seberang meja, Om Rudi adik dari Bu Ratna juga sedang menikmati sarapannya dengan diam.
Luna duduk di kursinya dengan malas, sesekali memainkan sendoknya di atas piring. Ia masih mengantuk, semalam Reno, pacarnya, mengajaknya keluar hingga larut malam.
"Kami sudah bilang, Luna. Jangan terlalu dekat dengan Reno," suara Bu Ratna terdengar tegas, membuat Luna mendesah kesal.
"Iya, Bu," jawabnya setengah hati.
"Ayah dan Ibu tidak suka anak itu. Dia terlalu bebas, dan orang tuanya bahkan tidak peduli dengan apa yang dia lakukan. Kamu masih SMA, Luna," lanjut Pak Arman dengan nada serius.
Luna meletakkan sendoknya dengan agak kasar. "Lagi pula, Ibu jangan melarang aku pacaran. Aku sudah besar!" katanya dengan nada protes.
Om Rudi yang sejak tadi diam akhirnya melirik keponakannya itu. "Besar bukan berarti bisa melakukan semuanya sesuka hati, Lun."
Luna menoleh dan tersenyum jahil. "Kalau aku nggak pacaran, nanti aku jadi kayak Om Rudi. Perjaka tua!" godanya sambil melirik pria itu.
Om Rudi berhenti mengunyah dan mendesah pelan. "Luna, Om sibuk kerja. Bukan berarti nggak mau nikah."
Luna tertawa kecil. "Iya, sibuk kerja terus. Sampai lupa cara jatuh cinta kali, ya?"
Bu Ratna menatap Luna tajam. "Jangan bicara begitu ke Om-mu."
Luna hanya mengangkat bahu, tidak peduli. Sementara itu, Arman melipat korannya dan menatap putrinya dengan serius.
"Luna, kami cuma ingin yang terbaik buat kamu. Reno bukan laki-laki yang baik. Kami nggak mau kamu salah jalan," ujarnya.
Luna mendengus. "Cuma karena dia sedikit nakal, bukan berarti dia jahat, Yah."
"Sedikit nakal?" Om Rudi mengangkat alisnya. "Kamu tahu sendiri dia sering mabuk-mabukan dan berkelahi."
"Dia nggak seburuk itu," Luna membela pacarnya.
Pak Arman menghela napas berat. "Kami cuma berharap kamu nggak menyesal nanti, Luna."
Luna diam, tapi wajahnya menunjukkan bahwa ia tidak suka diceramahi. Ia cepat-cepat menghabiskan makanannya lalu berdiri. "Aku berangkat sekolah."
"Luna," panggil Bu Ratna.
Luna menoleh, menunggu ibunya bicara.
"Tolong dengarkan nasihat kami."
Gadis itu hanya mengangguk kecil, lalu berjalan keluar tanpa menjawab.
Suasana meja makan menjadi hening. Om Rudi menyandarkan punggungnya ke kursi dan menatap Ratna. "Anak itu keras kepala."
Bu Ratna mengangguk, tampak khawatir. "Aku takut dia salah jalan."
Arman menghela napas panjang. "Kita harus lebih ketat mengawasinya."
Om Rudi menatap pintu yang baru saja ditutup oleh Luna. Jauh di dalam hatinya, ia merasa ada sesuatu yang tidak beres dengan gadis itu.
---
Bel sekolah berbunyi nyaring, menandakan waktu istirahat telah tiba. Luna berjalan santai menuju kantin, membenahi rambutnya yang sedikit berantakan. Matanya segera menangkap sosok Reno yang sedang bersandar di tembok dekat kantin, tangan laki-laki itu dimasukkan ke dalam saku celana seragamnya dengan gaya santai.
Begitu melihat Luna mendekat, Reno tersenyum miring. "Sayang, malam ini kita keluar yuk?" tanyanya dengan nada menggoda.
Luna menghela napas pelan, lalu duduk di kursi kosong di dekatnya. "Nggak bisa, Ren. Untuk sementara waktu aku nggak boleh keluar malam."
Reno mengerutkan keningnya. "Hah? Kenapa?"
"Orang tuaku melarang. Mereka lagi parno banget sama kamu," Luna terkekeh kecil. "Katanya kamu anak nakal yang bakal ngerusak hidupku."
Reno mendengus. "Dih, lebay banget sih mereka. Gue kan cuma ngajak jalan, bukan ngajak lo kabur dari rumah."
Luna tersenyum miring. "Tenang aja. Nanti kalau mereka pergi keluar kota, kita bakal bebas lagi."
Reno menaikkan sebelah alisnya. "Beneran? Terus siapa yang ngawasin lo di rumah?"
Luna tertawa kecil sambil menyandarkan tubuhnya ke kursi. "Ya ada Om Rudi, perjaka tua itu."
Reno ikut tertawa. "Oh iya, Om lo yang nggak pernah pacaran itu, ya?"
Luna mengangguk. "Iya. Dia bisa aku atasi kok. Dia nggak akan ngelarang-larang aku kayak orang tuaku."
Reno menyeringai. "Baguslah. Berarti kita bisa bersenang-senang."
Luna tersenyum penuh arti, membiarkan percakapan mereka berlalu begitu saja. Baginya, ini hanya masalah waktu. Begitu orang tuanya pergi, ia bisa melakukan apa pun yang ia mau.
---
Luna berjalan menuju kantin dengan langkah santai. Kepalanya sedikit menunduk, pikirannya masih sibuk memikirkan percakapannya dengan Reno tadi. Ia sebenarnya sedikit kesal karena orang tuanya terus mengawasinya dan menganggap Reno sebagai pengaruh buruk.
Begitu sampai di kantin, matanya langsung menangkap sosok Tania yang sudah duduk di salah satu meja dekat jendela. Sahabatnya itu tampak sibuk memainkan sedotan di gelas minumannya sambil menatap sekitar dengan bosan.
Begitu melihat Luna datang, Tania langsung mendesah keras dan memutar bola matanya.
"Eh, lo lama banget sih, Lun! Gue udah hampir mati kebosanan di sini!" keluh Tania sambil menepuk kursi kosong di sebelahnya, menyuruh Luna duduk.
Luna terkekeh kecil dan menjatuhkan tubuhnya ke kursi. "Halah, lebay banget! Gue cuma telat beberapa menit doang, Tan."
Tania melipat tangannya di dada. "Beberapa menit? Lo sadar nggak sih, gue udah nunggu lo dari tadi? Udah hampir setengah jam, tahu!"
Luna hanya tertawa, lalu menyambar segelas es teh yang sudah dipesan Tania untuknya. Ia menyesap minumannya perlahan sebelum akhirnya menatap sahabatnya itu dengan senyum usil. "Terus kenapa? Lo kan setia nungguin gue. Lagian, lo mau curhat kan?"
Tania mendengus dan menggulung lengan bajunya seolah siap untuk ceramah panjang. "Iya, gue mau curhat. Tapi sebelum itu, lo dulu deh. Dari wajah lo yang kelihatan nyebelin itu, gue yakin pasti ada sesuatu yang bikin lo kesel."
Luna mendesah sambil menyandarkan punggungnya ke kursi. "Biasa, bokap sama nyokap mulai ribet lagi soal Reno. Mereka larang gue pacaran sama dia."
Tania mengangkat alisnya, tampak tidak terkejut. "Yaelah, itu kan udah dari dulu. Lo juga udah sering dilarang-larang, tapi tetep aja pacaran sama dia."
Luna menyeringai. "Iya, tapi kali ini mereka lebih ketat lagi. Mereka nggak mau gue keluar malam. Katanya, gue harus jadi anak baik-baik."
Tania terkekeh. "Astaga, terus lo bakal nurut gitu?"
Luna mendengus. "Ya nggak lah! Mana mungkin gue nurut? Bokap nyokap bakal pergi keluar kota lagi minggu ini. Pas mereka pergi, gue bakal bebas lagi."
Tania mengangguk-angguk, lalu tersenyum penuh arti. "Terus, Om Rudi lo itu gimana? Kan dia bakal ada di rumah."
Luna memutar bola matanya. "Aduh, dia mah gampang. Om Rudi itu perjaka tua yang kerjaannya cuma di rumah atau di kantor. Gue yakin dia nggak bakal terlalu peduli sama gue."
Tania tertawa. "Jahat banget lo! Tapi bener juga sih. Dia nggak kayak orang tua lo yang suka ngatur-ngatur."
Luna mengangguk mantap. "Makanya, gue nggak terlalu khawatir. Yang penting sekarang, gue harus sabar dulu. Ntar pas rumah udah kosong, gue bisa bebas ngelakuin apa aja!"
Tania tersenyum jahil. "Termasuk pergi sama Reno?"
Luna tertawa kecil dan mengangguk. "Jelas! Lo pikir gue bakal diem aja di rumah?"
Tania menggeleng sambil tersenyum. "Lo emang bandel, Lun. Tapi yaudah lah, asal hati-hati aja."
Luna menyeringai. "Santai aja, Tan. Gue tahu cara mengatur semuanya."
bersambung....
Comments