AKU TAKUT MELAHIRKAN, BU!
Namaku Shaqila, aku menikah di usia 14 tahun alasannya ... aku hamil.
Pikirku, ketika lulus SD maka saat itu aku bukanlah seorang anak gadis yang harus selalu mengikuti perkataan ibu.
Aku sudah gede. Gak perlu atur-atur lagi hidupku, aku sudah bisa memilih jalan hidupku sendiri.
Di kelas satu menengah pertama, aku mulai merasakan ketertarikan pada seorang laki-laki sebayaku. Tidak seperti waktu SD yang hanya menyimpan rasa suka di dalam hati saja dan saling melempar ejekan. Tapi kali ini ada rasa untuk memiliki.
Aku berpacaran tanpa sepengetahuan orang tua. Diam-diam mencuri waktu untuk berduaan dengan beralasan main ke rumah teman perempuan.
Aku begitu yakin bahwa Dandi adalah masa depanku. Kami saling memiliki rasa yang sama, begitu besar bahkan lebih besar dari cinta mereka yang lebih dulu mengenal cinta.
Begitu yakinnya pada cinta kami, akhirnya siang itu kami menyatukan diri di rumah Dandi saat kedua orang tuanya bekerja.
Apa aku menyesal? Saat itu tidak. Ini kami lakukan sebagai bukti bahwa cinta kami bukan main-main, bukan sekadar cinta monyet yang seperti sering mereka katakan menanggapi hubunganku dan Dandi.
"Katanya kalau sekali gak bakal hamil, Qila." Dandi meyakinkanku saat aku mengeluh terlambat datang bulan.
Aku sudah mengalami menstruasi saat masih duduk di kelas 6 SD, dan biasanya datang sebulan sekali. Namun, sudah tiga bulan ini aku telat haid.
Selama satu Minggu aku izin tak masuk sekolah, badan rasanya linu. Kadang merasakan mual yang sangat hebat.
Pertama Mama mengajakku ke klinik rujukan BPJS di pabriknya. Katanya kemungkinan aku salah makan. Entah, yang jelas akhir-akhir ini aku selalu pilih-pilih makanan, gak mau baso padahal sebelumnya aku penggemar baso. Lebih suka yang asam seperti mangga muda, kedongdong dan asinan.
Satu bulan kemudian, aku masih bersekolah meski keadaanku malah semakin tak nyaman dengan perut yang sedikit membuncit dan sesuatu yang bergerak aneh di dalamnya.
Mengerikan, mungkin siswi yang suka sama Dandi berniat jahat dibelakangku, menyantetku misalnya.
Ah, begini risikonya jadi pasangan paling romantis di sekolahan. Banyak yang iri.
Lima bulan sudah aku tak menstruasi, perutku semakin besar saja. Aku sering menceritakan pergerakan aneh di dalam perut ini pada Dandi. Namun, Dandi hanya tertawa, katanya aku terlalu lucu mengatakan hal-hal yang mustahil.
Aku tak bisa mengajak ibu untuk mendengarkan apa yang aku rasa saat ini. Terlalu canggung.
Namun, pagi itu di hari Minggu. Aku keluar dari kamar dengan hanya menggunakan dres sebatas lutut. Ibu yang duduk menonton tv menoleh, tatapannya langsung terarah pada perut ini.
"Perut kamu besar." Kening Ibu mengerut, ia bangkit, berjalan ke arahku lantas berhenti setelah menyentuh perut ini.
Aku bergerak mundur. Canggung dengan sikap ibu juga tatapannya.
"Kamu punya pacar?" tanya Ibu.
Aku masih bingung apa harus jujur atau bohong. Kalau aku mengatakan yang sebenarnya pasti ibu marah. Lagi pula kenapa ibu menanyakan hal itu?
Aku menggeleng.
"Kapan kamu terakhir men?"
"Lima bulan lalu."
Mata ibu melebar. Lantas menarik tanganku kasar ke ruang tamu. Aku disuruhnya menunggu saat ibu mengeluarkan motor yang biasa disimpan di ruang tamu saat malam.
"Qila! Ayo ikut ibu!" teriak Ibu di luar sana sambil menyelah motor maticnya.
Aku menurut saja.
🍂🍂🍂
Di klinik, ibu menangis histeris. Dia memelukku erat, erat sekali. Sementara aku mulai bingung, bagaimana ini bisa terjadi?
"Siapa yang memperkosamu, Qila?" tanya ibu parau. Tangannya mengusap pipi ini lembut.
Dadaku mulai berdenyut sakit, tak sanggup menyebutkan nama ayah dari bayi yang kukandung.
Ya, aku benci dia. Teganya membohongiku, padahal selama ini aku percaya penuh padanya.
"Kata Dandi, aku gak bakal hamil kalau melakukannya hanya satu kali, Bu."
Tiba-tiba mata ibu melebar, mata merah karena tangisan tadi tampak berganti murka. Makin kacau balau lah perasaanku saat ini.
"Bodoh!" Satu tamparan mendarat keras di pipiku.
Penas, perih. Apalagi ibu melakukannya di depan dokter yang tadi memintaku untuk tes urine.
Dokter wanita itu menarik bahu ibu lantas memeluk wanita yang terus meneriakiku dengan perkataan kasar. 'Bodoh, tak punya otak, anak sialan'.
Sedang aku tak bisa berkata apa-apa, hanya meremas baju di atas paha menahan sakit di dalam dada bersama rasa takut yang timbul secara bersamaan.
Entah, apa yang akan teman, guru, tetangga katakan saat mereka tahu aku hamil diusia muda.
🍂🍂🍂
Selepas kepulangan kami dari klinik. Ibu menyeretku masuk rumah lantas menghempaskan tubuh ini ke sofa ruang tv.
"Sialan kamu, Qila. Harus ibu taruh di mana muka ibu!" Tangan ibu meremas rambutnya. Tangisnya masih histeris sama seperti di klinik tadi.
Dan semua itu menambah ketakukan juga rasa bersalah dalam diri ini.
Aku lari, mengunci diri di kamar, berniat untuk sembunyi. Entah dari siapa. Aku hanya takut, takut dengan apa yang akan terjadi setelah ini.
Di dalam kamar. Aku duduk di lantai dengan memeluk lutut. Jari ini mulai mengetik pesan, lantas kukirim pada nomer bernamakan 'Sayangku'.
"Pembohong!"
Pesan itu terkirim bahkan dibaca langsung oleh Dandi.
"Maksud kamu apa, Yank?"
"Aku hamil, Dandi!"
"Kok, bisa. Kata temenku katanya kalau satu kali gak bakalan hamil."
Aku tak tahu harus bagaimana menjelaskannya pada Dandi. Membiarkan panggilan dari Dandi terabaikan, memilih menangisi nasib diri.
"Qila!" teriak Ibu bersahutan dengan gedoran pintu.
Aku semakin kalut, mungkin ibu akan menghukumku lebih dari sebuah tamparan, atau mungkin melenyapkanku.
🍂🍂🍂
Baca selengkapnya di KBM App
Judul: Aku Takut Melahirkan, Bu
Penulis : Virgo_Orion
Comments