Featured Post

Sumasu Lori Todan - Lirik

O iha rai dook Hau mos iha Rai dook Liu hosi telephone itrua sasin lia ba malu Rona deit o nia lian, hau laran dodok Domin ida nee, domin ho.. laran moras * Hanoin o nia lalatak, hanoin ho laran triste Lahatene loos, O isin diak kalae? Hau sei harohan ba Nai Maromak Hodi fo tulun, itrua nia moris naruk Reef: O nia retrato, hau sei temi O nia naran Loron ba kalan hau tur hanoin deit O Kalan hau toba, toba be ladukur, Fila ba sorin hakuak deit sumasu Kalan hau toba, toba be ladukur, Fila ba sorin Sumasu lori todan. Back to *

Lebih Baik Berpisah (9)

Aku melangkah cepat ke sekolah Raka. Akibat ulahnya mengirim video viral itu membuat geger satu sekolah. Namun, anakku tetap santai menanggapi, bahkan ia sibuk bersendau gurau bersama teman-temannya.



Setelah kepala sekolah Raka menelepon dan meminta kejelasan maksud dari video itu, aku gegas ke Jakarta kembali bersama anakku. Sepertinya, sekalian saja aku menemui Hendri untuk membicarakan kasus perceraian dan harta gono gini.

Di hadapanku, gadis perusak itu menudukkan kepala, seolah takut bertatap muka denganku. Kami semua berada di ruang kepala sekolah, aku, Raka, juga Angel—teman satu kelas Raka.

“Bisa jelaskan pada saya, Bu. Tentang video yang disebar luaskan oleh Raka melalui Angel?” tanya Pak Hanif—kepala sekolah Raka.

“Pak, maaf sebelumnya. Saya tidak tahu hal itu. Semuanya begitu saja dan saya tahu saat Bapak menghubungi saya.” Aku menjelaskan sesuai yang terjadi. Memang aku tak tahu apa-apa masalah video itu.

“Apa benar yang ada di dalam video itu, tentang masalah keluarga kalian? Apa itu alasannya Raka pindah secara tiba-tiba dari sekolah ini?” Kepala Sekolah kembali mencecar dengan banyak pertanyaan.

Aku menatap tajam Citra yang masih menunduk tak berani menatap aku atau siapa pun yang berada di sekeliling. Apa harus aku menceritakan semua pada orang lain tentang perpecahan keluargaku?

Pak Hanif seperti menunggu jawaban pasti dariku. Begitu juga guru BK dan tentunya pelakor kecil itu. “Iya, Pak.”

“Iya, apa, Bu?” tanyanya memastikan.

Aku hanya bisa terdiam saat Pak Hanif kembali bertanya. Dada ini begitu sesak untuk melanjutkan ucapan dari mulut ini. Aku mencoba meraup oksigen, tetapi rasanya begitu sulit dan membuat aku tak nyaman.

“Biar saya yang jawab. Video itu memang benar.”

“Kalau benar, untuk apa kamu menyebar aib keluarga kamu Raka?”

“Biar semua tahu, pelacur itu dia!” Raka berteriak sembari mendorong tubuh Citra.

“Nak, sudah.” Aku memeluk tubuh Raka.

Pak Hanif bangkit mencoba membuat suasana tenang. Sementara, Citra menangis tergugu dengan air mata buayanya. Tubuhnya tersudut di pojok tembok.

“Hentikan Raka!” terika Pak Hanif.

“Iya, Ka, udah,” ujar Angel.

“Nggak bisa! Biar semua tahu kalau dia, pelacur! Gara-gara dia, rumah tangga orang tua saya hancur. Gara-gara dia, saya harus kehilangan Papa saya dan pelacur itu merebut semua!”

“Cukup Raka!” teriak Citra.

“Belum! Gara-gara lo, gue jadi miskin!”

Aku terduduk lesu kali ini mendengar kalimat terakhir Raka. Iya, kami sekarang miskin. Semua itu ulah gadis berengsek itu.

Semua terdiam mendengar teriakan Raka yang menggelegar. Hidup bergelimang harta membuat Raka bisa melakukan apa pun sesukanya. Namun, imbas perceraian aku dan ayahnya, membuat ia menjadi korban.

“Harusnya gue yang sekolah di sini dengan tenang. Bukan, lo! Bangsat lo Citra!”

Lagi, Raka hendak menghajar Citra, tetapi Pak Hanif langsung menahan tubuh Raka yang kini dipenuhi amarah. Citra beringsut mundur, aku yakin gadis itu sudah tersudut. Anakku memang seperti itu. Tak suka barang miliknya direbut orang apalagi kebahagiaan yang direngut.

“Bu, tenangkan Raka,” pinta Pak Hanif.

Susah payah aku bangkit menenangkan Raka, tetapi emosinya kian memuncak. Keributan terjadi di ruang ini.

“Ka, sudah.” Kini Angel yang berbicara.

Sesaat Raka bisa tenang. Sementara, Citra semakin ketakutan melihat Raka.

“Sampah kaya lo, harusnya dibuang. Wajah doang kaya malaikat, tapi kelakuan kaya malaikat maut. Seketika merebut semua yang gue miliki. Dasar pelacur!”

“Raka!” Aku berteriak agar Raka diam.

Suasana hening seketika. Raka pun terdiam mendengar teriakanku walaupun wajahnya masih memerah menahan amarah.

 Kepala sekolah kini meminta aku menceritakan hal sebenarnya karena ia tak mau jika video itu semakin beredar dan membuat nama baik sekolah hancur karena ada Citra di sekolah ini.

“Baik, saya tahu berat untuk Raka menerima kenyataan. Tapi, Bapak mohon jangan gegabah dan merugikan diri sendiri.”

“Iya, Pak,” ujar Raka.

“Untuk kamu Angel, Bapak akan menghukum kamu karena telah membantu Raka. Kamu Bapa scorsing tiga hari.”

Kasihan Angel sampai terkena hukuman. Apa yang akan dilakukan kepala sekolah pada Citra? Ah ... untuk apa peduli dengan dia perusak rumah tanggaku. Sampai saat ini aku puas mempermalukan pelakor itu. Benar kata Raka, biar semua orang tahu jika wajah seperti malaikat itu adalah iblis.

“Untuk kamu Citra, saya menyangka jika perbuatan kamu terlalu jauh. Kamu saya keluarkan secara tidak hormat.”

Deg.

Saat itu juga aku lihat Citra menangis dan memohon pada kepala sekolah. Sampai ia bersujud agar tidak dikeluarkan.

“Citra nggak salah, Pak. Citra mohon jangan keluarkan Citra. Ini semua kesalahan Papanya Raka. Saya hanya korban.”

“Ck! Hanya korban? Tapi kamu menikmatinya bukan?”

Aku muak melihat air mata buaya dan pembelaan gadis jalang itu. Adegan ini berakhir dengan kepuasan batin melihat Citra ke luar dari sekolah Raka. Dan, Raka diberi kesempatan mengikuti ujian masuk untuk mendapatkan beasiswa di sekolah ini. Senyum semringah terpancar dari anak laki-lakiku yang sedari tadi penuh dengan emosi yang memuncak.

Ke luar dari ruang kepala sekolah , tubuh ini terasa lemas kembali. Entah, terlalu banyak menguras emosi sedari tadi atau memang lelah karena terlalu capek bulak-balik Jakarta-Bandung mengurus hal-hal yang perlu diselesaikan.

“Angel, Maaf,” ujar Raka.

Angel tersenyum. Gadis itu tak banyak bicara pada Raka. Ia hanya mengacungkan jempol tangan. “Santai, kita senasib, bedanya hanya nyokap gue nggak sekuat nyokap lo, Ka.”

Lagi, gadis itu tersenyum padaku. Ah ... ternyata banyak yang senasib dengan anakku. Raka yang tak pernah banyak bicara, kini meluapkan emosi di depan semua orang. Pun aku baru tahu jika Angel berteman akrab dengan Raka.

“Ngel, makasi.”

“Iya, Tan. Santai.”

***

Aku dan Raka menunggu Hendri di kantornya. Pria itu ternyata sedang makan siang ke luar bersama kliennya. Terpaksa kami harus menunggu lama sampai Hendri kembali ke tempat ini. Sebelumnya aku sudah menghubungi, akan tetapi kejadian di sekolah ternyata sangat lama.

“Yas, Ka, ayo masuk,” ucapnya sembari membuka ruang kerja.

“Ya.”

Ruangan kerja duda ini sangat wangi. Ia sangat menyukai aroma kopi hingga di sini sangat mencolok harum aroma itu. Aku memindai tiap detail ruang ini sampai terkesima dengan foto Hendri dengan alm. Istrinya.

“Urusan Raka sudah selesai?” tanya Hendri.

“Sudah.”

Kami mulai berbincang tentang perceraianku dan harta yang akan di gono ginikan. Hendri pengacara handal yang bisa dipercaya. Kasusnya banyak menang dipersidangan. Kali ini pria itu yang mengajukan diri untuk membela aku. Intinya ia bilang bayar jasanya setah semua selesai dan jangan memikirkan itu.

Hendri juga meminta aku tetap tinggal di Jakarta untuk keperluan persidangan. Rkaa setuju karena anak itu juga akan mengikuti jalur bea siswa dari sekolahnya. Semua di mulai dari sekarang. Aku berjuang untuk anakku, Raka.

Untuk kalian yang menghianatiku, tunggu pembalasan yang sudah kusiapkan.

***

  • Penulis: Galuh_Arum02_kp
  • Judul : Lebih baik berpisah
  • Link kbm
  • Lebih baik berpisah  - Galuh Arum
  • sinopsis season 1 : 

Comments