Aku
melangkah cepat ke sekolah Raka. Akibat ulahnya mengirim video viral itu
membuat geger satu sekolah. Namun, anakku tetap santai menanggapi, bahkan ia
sibuk bersendau gurau bersama teman-temannya.
Setelah
kepala sekolah Raka menelepon dan meminta kejelasan maksud dari video itu, aku
gegas ke Jakarta kembali bersama anakku. Sepertinya, sekalian saja aku menemui
Hendri untuk membicarakan kasus perceraian dan harta gono gini.
Di
hadapanku, gadis perusak itu menudukkan kepala, seolah takut bertatap muka
denganku. Kami semua berada di ruang kepala sekolah, aku, Raka, juga Angel—teman
satu kelas Raka.
“Bisa
jelaskan pada saya, Bu. Tentang video yang disebar luaskan oleh Raka melalui
Angel?” tanya Pak Hanif—kepala sekolah Raka.
“Pak, maaf
sebelumnya. Saya tidak tahu hal itu. Semuanya begitu saja dan saya tahu saat
Bapak menghubungi saya.” Aku menjelaskan sesuai yang terjadi. Memang aku tak
tahu apa-apa masalah video itu.
“Apa benar
yang ada di dalam video itu, tentang masalah keluarga kalian? Apa itu alasannya
Raka pindah secara tiba-tiba dari sekolah ini?” Kepala Sekolah kembali mencecar
dengan banyak pertanyaan.
Aku
menatap tajam Citra yang masih menunduk tak berani menatap aku atau siapa pun
yang berada di sekeliling. Apa harus aku menceritakan semua pada orang lain
tentang perpecahan keluargaku?
Pak Hanif
seperti menunggu jawaban pasti dariku. Begitu juga guru BK dan tentunya pelakor
kecil itu. “Iya, Pak.”
“Iya, apa,
Bu?” tanyanya memastikan.
Aku hanya
bisa terdiam saat Pak Hanif kembali bertanya. Dada ini begitu sesak untuk
melanjutkan ucapan dari mulut ini. Aku mencoba meraup oksigen, tetapi rasanya
begitu sulit dan membuat aku tak nyaman.
“Biar saya
yang jawab. Video itu memang benar.”
“Kalau
benar, untuk apa kamu menyebar aib keluarga kamu Raka?”
“Biar
semua tahu, pelacur itu dia!” Raka berteriak sembari mendorong tubuh Citra.
“Nak,
sudah.” Aku memeluk tubuh Raka.
Pak Hanif
bangkit mencoba membuat suasana tenang. Sementara, Citra menangis tergugu
dengan air mata buayanya. Tubuhnya tersudut di pojok tembok.
“Hentikan
Raka!” terika Pak Hanif.
“Iya, Ka,
udah,” ujar Angel.
“Nggak bisa!
Biar semua tahu kalau dia, pelacur! Gara-gara dia, rumah tangga orang tua saya
hancur. Gara-gara dia, saya harus kehilangan Papa saya dan pelacur itu merebut
semua!”
“Cukup
Raka!” teriak Citra.
“Belum!
Gara-gara lo, gue jadi miskin!”
Aku
terduduk lesu kali ini mendengar kalimat terakhir Raka. Iya, kami sekarang
miskin. Semua itu ulah gadis berengsek itu.
Semua
terdiam mendengar teriakan Raka yang menggelegar. Hidup bergelimang harta
membuat Raka bisa melakukan apa pun sesukanya. Namun, imbas perceraian aku dan
ayahnya, membuat ia menjadi korban.
“Harusnya
gue yang sekolah di sini dengan tenang. Bukan, lo! Bangsat lo Citra!”
Lagi, Raka
hendak menghajar Citra, tetapi Pak Hanif langsung menahan tubuh Raka yang kini
dipenuhi amarah. Citra beringsut mundur, aku yakin gadis itu sudah tersudut.
Anakku memang seperti itu. Tak suka barang miliknya direbut orang apalagi
kebahagiaan yang direngut.
“Bu,
tenangkan Raka,” pinta Pak Hanif.
Susah
payah aku bangkit menenangkan Raka, tetapi emosinya kian memuncak. Keributan
terjadi di ruang ini.
“Ka,
sudah.” Kini Angel yang berbicara.
Sesaat
Raka bisa tenang. Sementara, Citra semakin ketakutan melihat Raka.
“Sampah
kaya lo, harusnya dibuang. Wajah doang kaya malaikat, tapi kelakuan kaya
malaikat maut. Seketika merebut semua yang gue miliki. Dasar pelacur!”
“Raka!”
Aku berteriak agar Raka diam.
Suasana
hening seketika. Raka pun terdiam mendengar teriakanku walaupun wajahnya masih
memerah menahan amarah.
Kepala sekolah kini meminta aku menceritakan
hal sebenarnya karena ia tak mau jika video itu semakin beredar dan membuat
nama baik sekolah hancur karena ada Citra di sekolah ini.
“Baik,
saya tahu berat untuk Raka menerima kenyataan. Tapi, Bapak mohon jangan gegabah
dan merugikan diri sendiri.”
“Iya,
Pak,” ujar Raka.
“Untuk
kamu Angel, Bapak akan menghukum kamu karena telah membantu Raka. Kamu Bapa
scorsing tiga hari.”
Kasihan
Angel sampai terkena hukuman. Apa yang akan dilakukan kepala sekolah pada
Citra? Ah ... untuk apa peduli dengan dia perusak rumah tanggaku. Sampai saat
ini aku puas mempermalukan pelakor itu. Benar kata Raka, biar semua orang tahu
jika wajah seperti malaikat itu adalah iblis.
“Untuk
kamu Citra, saya menyangka jika perbuatan kamu terlalu jauh. Kamu saya
keluarkan secara tidak hormat.”
Deg.
Saat itu
juga aku lihat Citra menangis dan memohon pada kepala sekolah. Sampai ia
bersujud agar tidak dikeluarkan.
“Citra
nggak salah, Pak. Citra mohon jangan keluarkan Citra. Ini semua kesalahan
Papanya Raka. Saya hanya korban.”
“Ck! Hanya
korban? Tapi kamu menikmatinya bukan?”
Aku muak
melihat air mata buaya dan pembelaan gadis jalang itu. Adegan ini berakhir
dengan kepuasan batin melihat Citra ke luar dari sekolah Raka. Dan, Raka diberi
kesempatan mengikuti ujian masuk untuk mendapatkan beasiswa di sekolah ini.
Senyum semringah terpancar dari anak laki-lakiku yang sedari tadi penuh dengan
emosi yang memuncak.
Ke luar
dari ruang kepala sekolah , tubuh ini terasa lemas kembali. Entah, terlalu
banyak menguras emosi sedari tadi atau memang lelah karena terlalu capek
bulak-balik Jakarta-Bandung mengurus hal-hal yang perlu diselesaikan.
“Angel,
Maaf,” ujar Raka.
Angel
tersenyum. Gadis itu tak banyak bicara pada Raka. Ia hanya mengacungkan jempol
tangan. “Santai, kita senasib, bedanya hanya nyokap gue nggak sekuat nyokap lo,
Ka.”
Lagi,
gadis itu tersenyum padaku. Ah ... ternyata banyak yang senasib dengan anakku.
Raka yang tak pernah banyak bicara, kini meluapkan emosi di depan semua orang.
Pun aku baru tahu jika Angel berteman akrab dengan Raka.
“Ngel,
makasi.”
“Iya, Tan.
Santai.”
***
Aku dan
Raka menunggu Hendri di kantornya. Pria itu ternyata sedang makan siang ke luar
bersama kliennya. Terpaksa kami harus menunggu lama sampai Hendri kembali ke
tempat ini. Sebelumnya aku sudah menghubungi, akan tetapi kejadian di sekolah
ternyata sangat lama.
“Yas, Ka,
ayo masuk,” ucapnya sembari membuka ruang kerja.
“Ya.”
Ruangan
kerja duda ini sangat wangi. Ia sangat menyukai aroma kopi hingga di sini
sangat mencolok harum aroma itu. Aku memindai tiap detail ruang ini sampai
terkesima dengan foto Hendri dengan alm. Istrinya.
“Urusan
Raka sudah selesai?” tanya Hendri.
“Sudah.”
Kami mulai
berbincang tentang perceraianku dan harta yang akan di gono ginikan. Hendri
pengacara handal yang bisa dipercaya. Kasusnya banyak menang dipersidangan.
Kali ini pria itu yang mengajukan diri untuk membela aku. Intinya ia bilang
bayar jasanya setah semua selesai dan jangan memikirkan itu.
Hendri
juga meminta aku tetap tinggal di Jakarta untuk keperluan persidangan. Rkaa
setuju karena anak itu juga akan mengikuti jalur bea siswa dari sekolahnya.
Semua di mulai dari sekarang. Aku berjuang untuk anakku, Raka.
Untuk
kalian yang menghianatiku, tunggu pembalasan yang sudah kusiapkan.
***
- Penulis:
Galuh_Arum02_kp
- Judul :
Lebih baik berpisah
- Link kbm
- Lebih baik
berpisah - Galuh Arum
- sinopsis
season 1 :
Comments