Sialan, si
Tyas benar-benar ingin membunuhku di hadapan Mas Anjas. Kurang ajar sekali dia,
awas kamu nanti ya. Maaf, Mas. Karena kalian sudah datang, saya pamit pulang,
kasihan Ibu di rumah sendirian, ucap Tyas berpamitan tanpa menoleh ke arahku.
Iya,
makasih ya, kamu sudah jagain anak-anak. Sudah bawa Ansel ke sini juga, maaf
kalau saya ada salah. Ih, ngapain juga Mas Anjas yang harus minta maaf,
jelas-jelas yang salah itu si Tyas.
Nggak ko,
Mas. Mas nggak ada salah, saya pamit. Assalamualaikum. Waalaikum salam. Setelah
Tyas pergi, jantungku mulai berdegup kencang. Setelah ini pasti Mas Anjas
bakalan marahin aku habis-habisan karena ucapan Tyas tadi.
Tapi, kok
Mas Anjas berjalan meninggalkanku begitu saja, dia masuk ke ruang UGD tempat
Ansel berada.
Alhamdulillah,
berarti dia nggak marah sama aku. Aku pun mengikuti langkahnya ke dalam ruangan
tersebut. Kulihat putra sulung ku terbaring lemas dengan wajah pucat dan bibir
kering. Matanya sayu dan menatapku tanpa senyum.
Mas Anjas
yang sudah lebih dulu berdiri di samping brankar Ansel mengusap dan mengecup
kening putra kami itu. Apa yang sakit, Sayang? tanyaku basa basi sembari
menyentuh tangan Ansel. Mas Anjas menepi tanganku agar menjauh. Nggak usah kamu
sentuh Ansel, Ra.
Mas, dia kan
anak aku juga. Aku nggak mau ribut di rumah sakit, nanti kita selesaikan
masalah kita di rumah, ucapnya dengan nada ketus. Gawat nih, kupikir Mas Anjas
nggak bakalan marah sama aku. Kenapa malah mau dibawa ke rumah masalah ini? Papah
jangan marahin Mamah, ucap suara Ansel yang lemah itu. Mamah kamu jahat, Nak.
Papah harus kasih dia pelajaran. Emangnya Mamah ngapain kok jahat, Pah? Mamah
udah buat Uti masuk rumah sakit kemarin.
Mas, kamu
nggak bisa dong percaya begitu aja sama Tyas. Buktinya aja nggak ada kalau aku
udah bikin Ibu keracunan, kataku mengelak. Semoga saja di rumah Ibu semua
barang bukti itu sudah dibuang Tyas ke tempat sampah atau ke mana kek yang
jauh. Jadi, benar-benar nggak ada bukti kalau Mas Anjas mendatangi rumah Ibu.
Masalahku sama Mas Anjas yang kemarin saja belum selesai. Dia yang pulang malam
dan handphone yang dikunci sedangkan aku nggak tahu sandinya saja sudah
membuatku curiga. Belum lagi bukti pembelian rumah atas nama perempuan yang
nggak aku kenal. Jangan sampai masalah Ibu buat Mas Anjas alasan membalikkan
fakta kalau dia selingkuh di belakangku.
Aku
bakalan cari bukti, kalau memang kamu yang sudah celakai ibu kamu sendiri, Ra.
Tapi ingat, kalau sampai itu benar terbukti, kamu tahu kan apa konsekuensinya?
ujar Mas Anjas lagi. Nggak, aku nggak ngelakuin apa-apa. Aku nggak ada sangkut
pautnya sama sakitnya Ibu. Aku tetap kekeuh untuk meyakinkan Mas Anjas.
Ruang
Anggrek 110 adalah ruangan di mana Ansel dirawat. Sementara Angel sudah
dijemput oleh Pak Yanto dan pulang. Aku menunggu Ansel di dalam kamar yang
dipesan oleh Tyas tadi. Bukan kamar VIP, kamar biasa yang isi pasiennya tiga
orang. Mas Anjas sedang menerima telepon di luar, bahkan aku nggak tahu dia
telponan sama siapa. Setiap kali aku mendekat, dia menjauh dan berusaha
menghindar. Aku semakin yakin kalau dia punya wanita simpanan.
Aku
melihat dari celah pintu kalau Mas Anjas sedang duduk di kursi tunggu. Mencoba
mendengarkan perbincangan mereka di telepon. Iya, nanti aku kirim uang untuk
biaya sekolah Revan dan Dilan. Agak siangan ya, soalnya Ansel masuk Rumah
Sakit. Eum, kata dokter kena maag. Kamu juga jaga kesehatan, salam buat Mama,
aku belum bisa tengok kalian dia sana.
Yaudah,
iya, semoga lancar ujiannya mereka ya. Sumpah, dada ini rasanya sesak sekali
mendengar suara Mas Anjas yang begitu lembut dengan yang diteleponnya. Siapa
sih? Kok ada mau kirim biaya sekolah segala? Klek!
Ngapain
kamu di sini? tanya Mas Anjas tiba-tiba. Aku menarik tangannya keluar dari
kamar Ansel. Mas, jelasin siapa yang barusan kamu telepon? Siapa? Selingkuhan
kamu ya? Kamu tuh ngomong apa sih?
Ya Mas
jawab aja. Siapa? Pake mau biayain sekolah segala. Nih kamu lihat, siapa nama
di panggilan keluar aku! Mas Anjas menunjukkan ponselnya ke hadapanku.
Sebuah
nama yang kukenal tertera di sana. Kirana. Tahu kan siapa? Kirana, kakak sepupu
aku. Kamu tahu kan dia janda ditinggal mati suaminya, mamanya kena struk,
papanya udah nggak ada. Aku nggak bisa kasih dia kerjaan karena salah satu
anaknya berkebutuhan khusus dan nggak bisa ditinggal. Kamu masih mau curiga
sama aku?
Aku
terdiam, iya aku kenal kalau Kirana. Kami pernah bertemu sekali mengunjungi
rumahnya. Mas Anjas bilang kalau bapaknya Kirana adalah kakaknya Mamah, mamanya
Mas Anjas. Tapi, nggak tahu kenapa aku tetap saja curiga. Bisa saja kan dia
ganti namanya itu Kirana, padalah yang ditelpon perempuan lain. Namanya cowok
kan lebih pintar menyembunyikan selingkuhannya. Aku juga nggak akan tinggal
diam. Aku akan cari bukti kalau Mas Anjas benar-benar selingkuh. Minggir! Mas
Anjas mendorongku menjauh, lalu dia masuk ke kamar Ansel.
Esoknya,
tepat pukul 13.00 aku akan pergi ke rumah Ibu. Terpaksa aku harus memberikan
pelajaran pada Tyas. Karena semalaman Mas Anjas tidak mau berbicara denganku,
bahkan aku nggak boleh menyentuh Ansel sama sekali.
Hari ini
aku nggak kerja, Ansel pun sudah pulang dari sebelum Zuhur. Sementara Mas Anjas
kerja, aku pergi sendiri mengendarai mobil menuju rumah Ibu. Ansel dan Angel
aku titip sama Alvira, adiknya Mas Anjas yang kuminta datang ke rumah.
Alvira itu
adik bungsunya Mas Anjas yang masih kuliah. Tinggal bersama Mamah di daerah
Kebun Jeruk, lumayan juga dari rumah ke rumahku. Untungnya hari ini dia nggak
ada jadwal kuliah, jadi bisa kumintai tolong buat nemenin Ansel dan Angel di
rumah selama aku pergi.
Akhirnya
aku tiba di depan rumah Ibu, gegas aku turun dari mobil dan menuju ke pintu
rumah Ibu yang terbuka. Heh, Tyas! Maksud lu apa hah ngomong sama Mas Anjas? Lu
sengaja ya mau bikin rumah tangga gue hancur! Aku menarik jilbab Tyas karena
kesal.
Astaghfirullah,
ada apa ini, Nduk, kok datang-datang ribut begini. Ibu keluar dari kamar, dan
seketika aku mendorong tubuh Tyas ke kursi.
Bu, ini
anak bener-bener kurang ajar. Masa dia ngadu ke Mas Anjas kalau aku kasih udah
buat Ibu masuk rumah sakit, kataku kesal dan masih berdiri menatap adikku yang
menyebalkan itu. Tyas tampak membetulkan jilbabnya, aku menarik jilbab itu
sampai terlepas. Percuma lu pake jilbab kalau tukang ngadu, makanya sampe
sekarang lu nggak punya cowok, nggak kerja, karena kelakuan lu kaya gitu! omelku
lagi.
Istighfar,
Nduk. Puasa puasa jangan marah. Ibu nggak apa-apa kok, Ibu sudah sembuh, kamu
jangan marah-marah sama adikmu, Nduk. Nggak bisa, Bu. Gara-gara dia Mas Anjas
marah dan nyuekin aku. Sudah, sudah, ya, nanti biar Ibu yang ngomong sama suamimu.
Ibu masih berusaha membujukku.
Aku nggak
peduli, biang keroknya adalah Tyas! Kalau Ibu ngomong juga percuma, Mas Anjas
sudah nggak percaya sama aku. Giliran anaknya sakit yang disalahin orang lain,
tapi dia sendiri nyakitin ibunya. Anak macam apa kamu, Mbak! Tyas nyeletuk
seenak jidat.
Aku
melotot dan hendak menarik jilbabnya lagi, tapi Ibu keburu menghalanginya. Dibesarin
orang tua, nggak ada terima kasihnya. Orang tua malah dikasih makanan
kadaluarsa. Sakit jiwa lu, Mbak! Heh, kurang ajar lu ya, selama ini gue udah
baik sama kalian ya. Masih ngirimin makanan, kue. Kalian pikir itu dibeli nggak
pakai uang apa?
Heh, Mbak.
Lebih baik kita nggak makan, dari pada makan makanan busuk yang Mbak kasih.
Tyas terus nyerocos membuatku semakin kesal. Tapi, aku merasa perutku tiba-tiba
sakit dan pandanganku kabur. Perut bergolak seperti hendak muntah, rasanya
sungguh nggak enak. Huek.
Nggak usah
pura-pura deh, Mbak! Salah salah aja, emang kita pikir kita bakalan kasihan
gitu sama kamu. Sialan, Tyas! Huek.
Comments