Featured Post

Sumasu Lori Todan - Lirik

O iha rai dook Hau mos iha Rai dook Liu hosi telephone itrua sasin lia ba malu Rona deit o nia lian, hau laran dodok Domin ida nee, domin ho.. laran moras * Hanoin o nia lalatak, hanoin ho laran triste Lahatene loos, O isin diak kalae? Hau sei harohan ba Nai Maromak Hodi fo tulun, itrua nia moris naruk Reef: O nia retrato, hau sei temi O nia naran Loron ba kalan hau tur hanoin deit O Kalan hau toba, toba be ladukur, Fila ba sorin hakuak deit sumasu Kalan hau toba, toba be ladukur, Fila ba sorin Sumasu lori todan. Back to *

PARSEL ESPIRADU/EXPIRED

Sialan, si Tyas benar-benar ingin membunuhku di hadapan Mas Anjas. Kurang ajar sekali dia, awas kamu nanti ya. Maaf, Mas. Karena kalian sudah datang, saya pamit pulang, kasihan Ibu di rumah sendirian, ucap Tyas berpamitan tanpa menoleh ke arahku.

Iya, makasih ya, kamu sudah jagain anak-anak. Sudah bawa Ansel ke sini juga, maaf kalau saya ada salah. Ih, ngapain juga Mas Anjas yang harus minta maaf, jelas-jelas yang salah itu si Tyas.

Nggak ko, Mas. Mas nggak ada salah, saya pamit. Assalamualaikum. Waalaikum salam. Setelah Tyas pergi, jantungku mulai berdegup kencang. Setelah ini pasti Mas Anjas bakalan marahin aku habis-habisan karena ucapan Tyas tadi.

Tapi, kok Mas Anjas berjalan meninggalkanku begitu saja, dia masuk ke ruang UGD tempat Ansel berada.

Alhamdulillah, berarti dia nggak marah sama aku. Aku pun mengikuti langkahnya ke dalam ruangan tersebut. Kulihat putra sulung ku terbaring lemas dengan wajah pucat dan bibir kering. Matanya sayu dan menatapku tanpa senyum.

Mas Anjas yang sudah lebih dulu berdiri di samping brankar Ansel mengusap dan mengecup kening putra kami itu. Apa yang sakit, Sayang? tanyaku basa basi sembari menyentuh tangan Ansel. Mas Anjas menepi tanganku agar menjauh. Nggak usah kamu sentuh Ansel, Ra.

Mas, dia kan anak aku juga. Aku nggak mau ribut di rumah sakit, nanti kita selesaikan masalah kita di rumah, ucapnya dengan nada ketus. Gawat nih, kupikir Mas Anjas nggak bakalan marah sama aku. Kenapa malah mau dibawa ke rumah masalah ini? Papah jangan marahin Mamah, ucap suara Ansel yang lemah itu. Mamah kamu jahat, Nak. Papah harus kasih dia pelajaran. Emangnya Mamah ngapain kok jahat, Pah? Mamah udah buat Uti masuk rumah sakit kemarin.

Mas, kamu nggak bisa dong percaya begitu aja sama Tyas. Buktinya aja nggak ada kalau aku udah bikin Ibu keracunan, kataku mengelak. Semoga saja di rumah Ibu semua barang bukti itu sudah dibuang Tyas ke tempat sampah atau ke mana kek yang jauh. Jadi, benar-benar nggak ada bukti kalau Mas Anjas mendatangi rumah Ibu. Masalahku sama Mas Anjas yang kemarin saja belum selesai. Dia yang pulang malam dan handphone yang dikunci sedangkan aku nggak tahu sandinya saja sudah membuatku curiga. Belum lagi bukti pembelian rumah atas nama perempuan yang nggak aku kenal. Jangan sampai masalah Ibu buat Mas Anjas alasan membalikkan fakta kalau dia selingkuh di belakangku.

Aku bakalan cari bukti, kalau memang kamu yang sudah celakai ibu kamu sendiri, Ra. Tapi ingat, kalau sampai itu benar terbukti, kamu tahu kan apa konsekuensinya? ujar Mas Anjas lagi. Nggak, aku nggak ngelakuin apa-apa. Aku nggak ada sangkut pautnya sama sakitnya Ibu. Aku tetap kekeuh untuk meyakinkan Mas Anjas.

Ruang Anggrek 110 adalah ruangan di mana Ansel dirawat. Sementara Angel sudah dijemput oleh Pak Yanto dan pulang. Aku menunggu Ansel di dalam kamar yang dipesan oleh Tyas tadi. Bukan kamar VIP, kamar biasa yang isi pasiennya tiga orang. Mas Anjas sedang menerima telepon di luar, bahkan aku nggak tahu dia telponan sama siapa. Setiap kali aku mendekat, dia menjauh dan berusaha menghindar. Aku semakin yakin kalau dia punya wanita simpanan.

Aku melihat dari celah pintu kalau Mas Anjas sedang duduk di kursi tunggu. Mencoba mendengarkan perbincangan mereka di telepon. Iya, nanti aku kirim uang untuk biaya sekolah Revan dan Dilan. Agak siangan ya, soalnya Ansel masuk Rumah Sakit. Eum, kata dokter kena maag. Kamu juga jaga kesehatan, salam buat Mama, aku belum bisa tengok kalian dia sana.

Yaudah, iya, semoga lancar ujiannya mereka ya. Sumpah, dada ini rasanya sesak sekali mendengar suara Mas Anjas yang begitu lembut dengan yang diteleponnya. Siapa sih? Kok ada mau kirim biaya sekolah segala? Klek!

Ngapain kamu di sini? tanya Mas Anjas tiba-tiba. Aku menarik tangannya keluar dari kamar Ansel. Mas, jelasin siapa yang barusan kamu telepon? Siapa? Selingkuhan kamu ya? Kamu tuh ngomong apa sih?

Ya Mas jawab aja. Siapa? Pake mau biayain sekolah segala. Nih kamu lihat, siapa nama di panggilan keluar aku! Mas Anjas menunjukkan ponselnya ke hadapanku.

Sebuah nama yang kukenal tertera di sana. Kirana. Tahu kan siapa? Kirana, kakak sepupu aku. Kamu tahu kan dia janda ditinggal mati suaminya, mamanya kena struk, papanya udah nggak ada. Aku nggak bisa kasih dia kerjaan karena salah satu anaknya berkebutuhan khusus dan nggak bisa ditinggal. Kamu masih mau curiga sama aku?

Aku terdiam, iya aku kenal kalau Kirana. Kami pernah bertemu sekali mengunjungi rumahnya. Mas Anjas bilang kalau bapaknya Kirana adalah kakaknya Mamah, mamanya Mas Anjas. Tapi, nggak tahu kenapa aku tetap saja curiga. Bisa saja kan dia ganti namanya itu Kirana, padalah yang ditelpon perempuan lain. Namanya cowok kan lebih pintar menyembunyikan selingkuhannya. Aku juga nggak akan tinggal diam. Aku akan cari bukti kalau Mas Anjas benar-benar selingkuh. Minggir! Mas Anjas mendorongku menjauh, lalu dia masuk ke kamar Ansel.

Esoknya, tepat pukul 13.00 aku akan pergi ke rumah Ibu. Terpaksa aku harus memberikan pelajaran pada Tyas. Karena semalaman Mas Anjas tidak mau berbicara denganku, bahkan aku nggak boleh menyentuh Ansel sama sekali.

Hari ini aku nggak kerja, Ansel pun sudah pulang dari sebelum Zuhur. Sementara Mas Anjas kerja, aku pergi sendiri mengendarai mobil menuju rumah Ibu. Ansel dan Angel aku titip sama Alvira, adiknya Mas Anjas yang kuminta datang ke rumah.

Alvira itu adik bungsunya Mas Anjas yang masih kuliah. Tinggal bersama Mamah di daerah Kebun Jeruk, lumayan juga dari rumah ke rumahku. Untungnya hari ini dia nggak ada jadwal kuliah, jadi bisa kumintai tolong buat nemenin Ansel dan Angel di rumah selama aku pergi.

Akhirnya aku tiba di depan rumah Ibu, gegas aku turun dari mobil dan menuju ke pintu rumah Ibu yang terbuka. Heh, Tyas! Maksud lu apa hah ngomong sama Mas Anjas? Lu sengaja ya mau bikin rumah tangga gue hancur! Aku menarik jilbab Tyas karena kesal.

Astaghfirullah, ada apa ini, Nduk, kok datang-datang ribut begini. Ibu keluar dari kamar, dan seketika aku mendorong tubuh Tyas ke kursi.

Bu, ini anak bener-bener kurang ajar. Masa dia ngadu ke Mas Anjas kalau aku kasih udah buat Ibu masuk rumah sakit, kataku kesal dan masih berdiri menatap adikku yang menyebalkan itu. Tyas tampak membetulkan jilbabnya, aku menarik jilbab itu sampai terlepas. Percuma lu pake jilbab kalau tukang ngadu, makanya sampe sekarang lu nggak punya cowok, nggak kerja, karena kelakuan lu kaya gitu! omelku lagi.

Istighfar, Nduk. Puasa puasa jangan marah. Ibu nggak apa-apa kok, Ibu sudah sembuh, kamu jangan marah-marah sama adikmu, Nduk. Nggak bisa, Bu. Gara-gara dia Mas Anjas marah dan nyuekin aku. Sudah, sudah, ya, nanti biar Ibu yang ngomong sama suamimu. Ibu masih berusaha membujukku.

Aku nggak peduli, biang keroknya adalah Tyas! Kalau Ibu ngomong juga percuma, Mas Anjas sudah nggak percaya sama aku. Giliran anaknya sakit yang disalahin orang lain, tapi dia sendiri nyakitin ibunya. Anak macam apa kamu, Mbak! Tyas nyeletuk seenak jidat.

Aku melotot dan hendak menarik jilbabnya lagi, tapi Ibu keburu menghalanginya. Dibesarin orang tua, nggak ada terima kasihnya. Orang tua malah dikasih makanan kadaluarsa. Sakit jiwa lu, Mbak! Heh, kurang ajar lu ya, selama ini gue udah baik sama kalian ya. Masih ngirimin makanan, kue. Kalian pikir itu dibeli nggak pakai uang apa?

Heh, Mbak. Lebih baik kita nggak makan, dari pada makan makanan busuk yang Mbak kasih. Tyas terus nyerocos membuatku semakin kesal. Tapi, aku merasa perutku tiba-tiba sakit dan pandanganku kabur. Perut bergolak seperti hendak muntah, rasanya sungguh nggak enak. Huek.

Nggak usah pura-pura deh, Mbak! Salah salah aja, emang kita pikir kita bakalan kasihan gitu sama kamu. Sialan, Tyas! Huek. 

Comments