Featured Post

Sumasu Lori Todan - Lirik

O iha rai dook Hau mos iha Rai dook Liu hosi telephone itrua sasin lia ba malu Rona deit o nia lian, hau laran dodok Domin ida nee, domin ho.. laran moras * Hanoin o nia lalatak, hanoin ho laran triste Lahatene loos, O isin diak kalae? Hau sei harohan ba Nai Maromak Hodi fo tulun, itrua nia moris naruk Reef: O nia retrato, hau sei temi O nia naran Loron ba kalan hau tur hanoin deit O Kalan hau toba, toba be ladukur, Fila ba sorin hakuak deit sumasu Kalan hau toba, toba be ladukur, Fila ba sorin Sumasu lori todan. Back to *

Mengapa Anak Sekarang gampang marah orang tua

 Banyak orang tua bilang:

“Dulu anak tuh nurut! Sekarang dikit-dikit marah, baper, sensi!”



Tapi, yuk coba jujur...

Mungkin bukan anaknya yang berubah sendiri.

Ada banyak faktor dari dalam keluarga dan luar yang bikin anak jadi lebih mudah emosi.


Berikut 7 penyebabnya ⬇️

1. Terlalu Sering Dimarahi, Jarang Dipahami

Anak dimarahin karena nilai jelek, lupa beresin kamar, main HP terus...

Tapi kapan terakhir kali ditanya:

> “Kenapa kamu begini? Lagi kenapa, nak?

Anak bukan robot. Kalau tiap hari ditekan, lama-lama meledak.

2. Orang Tua Selalu Mau Menang Sendiri

Kalimat andalan:

> “Ikutin aja, kamu belum tahu apa-apa!”

Anak merasa pendapatnya nggak penting.

Akhirnya, mereka marah karena butuh didengar, bukan dibantah.

3. Dibanding-Bandingkan Terus

“Lihat tuh kakakmu bisa!”

“Anak tetangga aja rajin, kamu kok nggak?”

Kalimat ini nggak bikin anak termotivasi, malah bikin kesal dan kecewa.

4. Tidak Ada Contoh yang Baik di Rumah

Kalau orang tua gampang marah, kasar, atau suka membentak...

Jangan heran kalau anak jadi sama.

Mereka meniru apa yang mereka lihat setiap hari.

5. Terlalu Banyak Tekanan dari Sekolah & Lingkungan

Tugas numpuk, standar tinggi, belum lagi tuntutan “harus sukses” dari banyak arah.

Belum selesai satu masalah, datang masalah lain.

Anak bisa kelelahan mental — dan itu mudah memicu emosi.

6. Kurang Waktu Berkualitas dengan Keluarga

Tinggal serumah tapi jarang ngobrol.

Sibuk kerja, sibuk HP, sibuk urusan masing-masing.

Anak jadi ngerasa nggak punya tempat aman buat cerita.

7. Paparan Sosial Media dan Konten Negatif

Banyak anak sekarang tumbuh bersama YouTube, TikTok, Instagram...

Isi kepalanya campur aduk antara tren, drama, dan tuntutan gaya hidup.

Kalau nggak kuat filter, mereka gampang emosional dan reaktif.

Comments